Cerpen: "Cahaya Lentera di Bawah Hujan"

Prolog

“Derasnya hujan membasahi bumi sejak senja hingga malam hari, membawa ketenangan yang tak dapat dipungkiri oleh semua orang. Kala itu, Aiss duduk dibalik jendelanya memandangi butiran-butiran air berlomba-lomba turun di kaca jendelanya. Wajahnya tenang, namun matanya menyimpan sejuta pertanyaan, keinginan, dan kerinduan yang tak terbalaskan. Setiap gemuruh petir mengingatkannya pada suara yang dulu pernah menggetarkan hatinya, suara yang pernah meredamkan gelora api di hatinya, hingga perlahan satu demi satu cerita teringat kembali momen dan kenangan-kenangan bahagianya tentang pertemuan hangat yang mampu mengubah hidupnya dan perpisahan yang menyisakan ruang kosong di hatinya, sampai detik ini”. 


Bagian I: Kilau Mentari Terselip Ketika Mendung

Aiss adalah seorang perempuan muda yang tumbuh dalam keluarga yang penuh tekanan, aturan, dan tuntutan yang tinggi. Sejak kecil, ia selalu dibanding-bandingkan, dibeda-bedakan, tak pernah dianggap ada, bahkan tak pernah diberi kesempatan untuk berbicara. Hal itu membuat ia belajar untuk menahan perasaan, menyembunyikan lukanya sendiri, dan berpura-pura kuat agar semua nampak baik-baik saja. Disaat keluarga seharusnya penuh perhatian, kasih saya, dan menjadi tempat (rumah) paling nyaman untuk berpulang, kini malah sebaliknya. Bagi Aiss, keluarga itu menjadi faktor utama munculnya trauma yang mendalam. 


Aiss yang terjerat dalam labirin kesedihannya itu mencoba berbagai pelarian untuk melepaskan diri dari cengkeraman trauma dan kesedihan yang menghantuinya. Ia memainkan nada-nada yang kelam pada alat musiknya dan berharap dengan melodi itu bisa menenangkan luka dan rasa sakitnya. Namun, ketika alat musik itu diam, kesunyian yang menyertainya seakan lebih berat daripada nada-nada yang ia mainkan. Ia mencoba menggambar dan melukis, namun goresan kuasnya hanya meninggalkan bayang-bayang kenangan yang tak diinginkan. Ia kembali mencoba merajut benang demi benang, namun setiap simpul yang terbentuk, setiap jarum yang digunakannya hanya mengingatkannya pada luka yang tak kunjung sembuh. 


Sampai akhirnya, Aiss merasa muak dengan segala upaya yang telah ia lakukan. Ia memutuskan untuk berjalan keluar membawa catatan kecil miliknya, menyerahkan dirinya pada angin dan matahari yang bersinar terik, membiarkan alam menjadi pelindung sementara bagi jiwanya yang terluka. Di tengah perjalanan itu, sebuah ide muncul untuk mencurahkan semua yang ia rasakan di atas secarik kertas, kemudian merobek-robeknya, membakarnya, dan membiarkannya menjadi abu yang tercerai-berai. Ia berharap, dengan itu, semua rasa sakit dan luka bisa lenyap bersama asap yang berhamburan ke langit dan dari abu itu, sesuatu yang tak terduga akhirnya muncul. Aiss menemukan bahwa dengan menulis dapat menjadi obat baginya untuk mencurahkan semua yang ada di dalam hatinya tanpa takut dihakimi. Ia mulai menulis di tempat-tempat yang memberinya kedamaian seperti di taman kecil yang indah,, di bawah pohon besar yang teduh, di tepi sungai yang mengalir lembut, ataupun di rooftop kafe kecil yang sunyi. Di setiap kata yang ia tuliskan, ia merasa beban di hatinya perlahan-lahan berkurang. Dalam keheningan dan kesunyian, Aiss menemukan secuil harapan. Ia belajar bahwa meski luka-lukanya tak sepenuhnya bisa dihapus, ia bisa belajar hidup dengannya, dan melalui kata-kata, ia bisa menemukan sedikit demi sedikit pemulihan untuk dirinya sendiri. 

_______

Saat itu, Aiss duduk di bangku taman, di tepi sungai yang airnya mengalir lembut, ia kembali menulis di buku diary-nya sambil menikmati suasana alam yang tenang. Tiba-tiba hujan turun tanpa peringatan, mengguyur Aiss dengan derasnya. Ia terkejut, berusaha melindungi buku dan kertasnya, tapi sudah terlambat. Beberapa helai kertas mulai basah dan tintanya memudar. Aiss nampak kebingungan, tergesa-gesa membereskan semuanya dan segera mencari tempat yang teduh. 


Namun, belum sempat ia membereskannya, seorang laki-laki berlari mendekat, membuka payung besar dan menaungi Aiss di bawah payung itu. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanya orang itu sambil menatap Aiss dengan khawatir. Aiss merasa sedikit terkejut dengan kedekatan mereka sekarang, tapi ia hanya mengangguk, berusaha menyembunyikan buku yang basah. Lelaki itu kemudian membantu Aiss memindahkan buku dan tasnya ke tempat yang teduh, sambil terus berbicara untuk mencairkan suasana. "Kayaknya kita sama-sama kurang beruntung hari ini, ya?". Ucap laki-laki itu sambil terkekeh pelan dan terus berusaha merubah kecanggungan yang mereka alami. Aiss menatap laki-laki itu dan membalasnya dengan senyuman, merasa sedikit lebih nyaman, meskipun situasi ini cukup memalukan baginya.


Dalam keheningan, Aiss menyadari tatapan mata laki-laki itu sangat hangat dan penuh perhatian, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Tanpa disadari, hujan turun semakin deras, seolah menjadi saksi bisu pertemuan tak terduga ini. Aiss dan orang itu berdiri di bawah payung, saling menatap tanpa banyak bicara. Orang itu kemudian menawarkan untuk mengantar Aiss ke tempat yang lebih nyaman, dan Aiss menerima tawaran itu. Mereka berjalan beriringan, payung melindungi mereka dari hujan yang semakin deras.


Saat berjalan, Aiss tak bisa berhenti untuk memperhatikan betapa indahnya alam semesta yang sepertinya sedang memainkan peran penting dalam pertemuannya ini. Orang itu bernama Arka dan Aiss merasa ada sesuatu yang menarik tentang dirinya. Mereka berbicara sedikit tentang hujan, tentang hari yang buruk, tapi ada sesuatu di balik kata-kata itu yang membuat Aiss merasa lebih nyaman. Akhirnya mereka tiba di sebuah kafe kecil yang hangat dan nyaman, kafe itu adalah kafe yang sama dengan kafe yang biasa didatangi oleh Aiss untuk mencurahkan isi hatinya. Arka menawarkan untuk membelikan Aiss secangkir kopi atau teh untuk menghangatkan diri. Aiss menerima tawaran itu, dan mereka duduk di pojok kafe, menikmati hangatnya minuman sambil terus berbicara.


"Jadi, apa yang kamu lakukan di pinggir sungai tadi?" Arka mulai bertanya, sambil menatap Aiss dengan rasa ingin tahu.


Aiss tersenyum, merasa sedikit malu. "Aku suka menulis" Ucap Aiss. "Aku juga sering pergi ke tempat-tempat yang tenang untuk mencari inspirasi dan menuangkan pikiran-pikiranku. Kebetulan aku juga sering ke kafe ini karena kafe ini jaraknya tidak terlalu jauh dari taman itu" Lanjutnya.


Arka mengangguk dan tampak tertarik dengan cerita Aiss. Kemudian ia mulai berbicara lagi "Jadi seperti itu yaa. Aku juga suka menulis, tapi aku lebih suka menulis puisi karena bagiku dengan menulis puisi bisa mewakili perasaanku yang sulit diungkapkan dengan kata-kata”. Ucap Arka. 


Aiss tersenyum, merasa bahwa mereka memiliki kesamaan. "Aku juga suka puisi” katanya. "Kau benar bahwa puisi bisa menjadi cara yang indah untuk mengungkapkan perasaan dan pengalaman. Apalagi melihat orang-orang yang membacakan puisi dengan ekspresionis itu sangat menyenangkan sekali, aku juga suka mendengarnya. Namun, aku tak pandai membuatnya. Aku hanya bisa mencurahkan semua yang aku alami pada buku ini. Terkadang jika itu sangat menghantui dan membuatku semakin sakit aku akan merobeknya dan membakarnya sampai habis. Dengan harapan semoga rasa sakitku juga hilang bersama potongan abu itu” Lanjut Aiss. 


Aku bisa membantumu membuat puisi, jika kamu mau” tawar Arka kepada Aiss, hingga mata Aiss pun berbinar dan berkata “Benarkah? Tentu saja aku mau”. 


Percakapan mereka mengalir dengan mudah, dari topik yang ringan hingga yang lebih dalam. Aiss merasa terkejut betapa banyak kesamaan mereka, betapa mudahnya mereka berdua berbicara tentang hal-hal yang biasanya sulit dibicarakan.


Arka kemudian bertanya tentang pengalaman Aiss, tentang apa yang telah membuatnya menjadi orang yang sekarang. Aiss merasa sedikit ragu, tapi ada sesuatu tentang Arka yang membuatnya merasa nyaman untuk membuka diri.


"Aku melalui banyak hal yang sulit dalam hidupku" Aiss berkata, suaranya sedikit lirih dan bergetar. "Aku kehilangan peran orang-orang yang aku cintai, dan aku telah merasa sangat kesepian. Tapi dengan hal itu aku bisa belajar untuk menghadapi kesedihan dan menemukan kekuatan dalam diri sendiri. Meskipun ketika aku kembali ke rumah aku tetap merasa sakit dan terluka tapi tak apa, aku tetap bisa bahagia dengan menikmati alam dan mencurahkan apa yang aku alami di catatan kecilku ini”. 


Arka mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya tidak pernah meninggalkan wajah Aiss. "Aku juga pernah melalui hal-hal yang sulit dan hal itulah yang merubah hobiku menjadi penulis puisi”. Arka berkata, suaranya rendah dan penuh emosi. "Dulu, aku kehilangan kepercayaan diriku karena tak ada yang mau menerimaku sebagai teman, sudah banyak yang aku coba supaya mereka dapat menerimaku tapi semuanya terasa seperti tidak ada jalan keluar. Tapi dari itu semua aku juga belajar untuk menerima diri sendiri dan menemukan kekuatan dalam kelemahan. Memang terkadang kekuatan itu tumbuh ketika kita telah mengalami kesulitan, kamu hebat disaat perempuan pada umumnya membutuhkan seseorang untuk menghapus lukanya kamu bisa mengatasinya sendiri hingga selama ini. Kamu juga bisa menghadapi tantangan dan menemukan kekuatan dalam diri sendiri dan aku percaya bahwa kamu kuat, kamu akan terus berkembang menjadi lebih kuat, karena kamu memiliki hati yang baik dan semangat yang tak pernah padam. Aku bangga bisa mengenal kamu, Aiss”


Aiss merasa terharu hingga air matanya menetes, ia merasa bahwa mereka berdua memiliki pengalaman yang sama, mereka berdua bisa saling mengerti dan memahami. Ketika hujan di luar mulai mereda, Aiss menyadari bahwa mungkin, pertemuannya dengan Arka ini bukanlah kebetulan belaka. Ia merasa bahwa mereka berdua telah menemukan sesuatu yang berharga, sesuatu yang bisa mengubah hidup mereka selamanya.


Bagian II: Hangat Lentera di Tengah Rintik

Di bawah naungan matahari yang mulai terbenam, Aiss dan Arka duduk di tepi sungai, menikmati kebersamaan mereka yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup mereka. Mereka telah menulis bersama di taman, bermain di sungai, dan menjelajahi alam sekitar untuk menciptakan kenangan yang tak terlupakan. Sungai yang mengalir lembut di depan mereka seolah menjadi saksi bisu atas kebersamaan mereka. Air yang jernih dan tenang memantulkan cahaya matahari yang mulai memudar, menciptakan pemandangan yang sangat indah. Bunga-bunga liar yang tumbuh di tepi sungai bergoyang-goyang lembut dihembus angin, seperti menari-nari dalam irama kebersamaan mereka.


"Aku merasa bahwa kita memiliki koneksi yang sangat kuat. Tetap seperti ini yaa!” kata Arka dengan suara yang lembut, menatap Aiss dengan mata yang penuh kasih.

Aiss tersenyum, merasa bahwa kata-kata Arka sangat tepat. "Aku juga. aku merasa bahwa kita telah menemukan bagian dari diri kita sendiri dalam kebersamaan kita. Aku akan terus disini bersamamu”. 


Saat matahari terbenam, Aiss dan Arka duduk dalam keheningan, menikmati kebersamaan mereka yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup mereka. Dibawah langit senja yang berwarna merah dan oranye yang indah dan aliran sungai yang membuat kebersamaan mereka menjadi penuh ketenangan dan kenyamanan. Mereka telah menemukan kebahagiaan yang tiada tandingannya layaknya menemukan bayangan cahaya diantara kegelapan dan kesunyian. Mereka berdua sangat bersyukur atas kebersamaan itu, dan mereka berharap bahwa kebersamaan mereka akan berlangsung selamanya.


Bagian III: Malam Menyisip diantara Cahaya 

Baru saja mereka mengalami kebersamaan yang indah itu, sekarang mereka harus menghadapi permasalahan yang membuat hubungan dan kebersamaan mereka berada di ujung tanduk. Bak cahaya yang terbenam di samudera gelap, akankah kebersamaannya akan berakhir sesingkat ini?? Aiss merenung dan masih tak percaya dengan semua ini. Kebersamaan yang ia kira akan berlangsung selamanya, kini telah berada di ujung tanduk.

/flashback on

Suatu pagi yang cerah, saat Aiss sedang menulis di kafe biasa mereka, Arka datang dengan wajah yang sulit dibaca. Ada kegelisahan yang terpancar dari matanya. Ia duduk di hadapan Aiss, menarik napas dalam-dalam. "Aiss, ada sesuatu yang harus kuberi tahu" suaranya serak. "Orang tuaku... mereka sudah menjodohkanku dengan orang lain dan aku akan segera menikah dengannya."


Seketika, Aiss berhenti dari kegiatannya. Dunia Aiss terasa runtuh. Kata-kata yang tak pernah terpikirkan itu bergaung di telinganya, memecah semua harapan yang baru saja ia bangun. Senyum di wajahnya memudar, tergantikan oleh keterkejutan dan rasa sakit yang mendalam. Ia menatap Arka, mencari kebohongan di matanya, namun yang ia temukan hanyalah kesedihan dan keputusasaan.


"Lalu aku bagaimana, Arka? Kau janji kita akan selamanya bersama tapi sekarang apa??! kau membuangku seolah-olah aku cuman bertugas untuk menemani kesepianmu. Aku tau aku bukan berasal dari keluarga yang mahir di dunia bisnis, bahkan keluargaku jauh dari kata sempurna tapi kamu Arka. Kamu yang pernah bilang padaku untuk terus selalu dalam hubungan dan kebersamaan ini, kamu yang bilang bahwa kamu menyukai kebersamaan kita ini, kamu juga satu-satunya orang yang aku percaya, orang yang sangat penting buat aku, tapi nyatanya kamu juga sama aja membuangku dengan alasan kamu tidak bisa menolak perjodohan itu. gila, Arka. Aku ga pernah menyangka ini terjadi padaku. Satu-satunya orang yang sangat aku percaya, aku sayangi, dan aku anggap penting itu memberikan luka yang sangat dahsyat untukku". ucap Aiss dengan tangis dan marah yang menggebu-gebu.


Arka merasa frustasi, ia tak tau harus berbuat apa lagi. "Aiss, m-m-maafkan akuu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu tapi, tapi maaff. maaf, aku tidak bisa berbuat apa-apa kali ini, Aiss. A-aa-aku minta maaf, Aiss…” ucap Arka lirih. 


Aiss berdiri dari tempatnya dan langsung pergi meninggalkan Arka di kafe itu. Ia sungguh tak percaya, cahaya yang ia dapat dari kegelapannya itu akhirnya sirna pula. Ia tak tau harus bagaimana lagi, kegelapan, kesedihan, luka, dan trauma menyambutnya kembali hari ini, bahkan rasa sakit ini lebih sakit daripada rasa sakit yang biasa ia dapatkan. Ia muak dengan segalanya dan merasa ia memang tak pantas untuk ditemani oleh siapapun.

/flashback off


Bagian IV: Jejak setelah Cahaya Sirna 

Setelah kejadian itu, Aiss berusaha bangkit dari keterpurukannya. Ia menumbuhkan semangat pada dirinya untuk kembali menghadapi semuanya sendiri. Ia juga menyadari bahwa di dunia ini tak ada yang abadi, tak ada yang bisa diandalkan, tak ada yang benar-benar bisa mendampingi kecuali diri sendiri, bahkan bayangan diri sendiri saja tetap tidak bisa selalu membersamai ketika kita berada dalam kegelapan.


Aiss kembali menulis, namun kali ini bukan untuk mencurahkan luka, melainkan untuk menemukan makna baru dalam setiap goresan penanya. Ia mulai menjelajah lebih jauh tak hanya di sekitar taman dan kafe saja, ia mulai mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang ia cintai, seperti menjelajahi sudut-sudut kota yang belum pernah ia kunjungi, membaca buku-buku yang menginspirasi, dan bergabung dengan komunitas penulis. Ia ingin mengubah rasa sakit menjadi kekuatan, mengubah perpisahan menjadi pelajaran.


Beberapa bulan kemudian, sebuah undangan pernikahan dan puisi terakhir Arka tiba di kotak posnya. Dengan tangan bergetar, Aiss membukanya. Nama Arka dan seorang wanita yang tidak ia kenal tertera di sana. “Annisa” nama itu membuat jantungnya terasa diremas, nafasnya sesak, dan air mata mengalir derasnya. Ia tak percaya ternyata hari itu benar-benar tiba. Aiss mencoba membaca puisi itu untuk memahami keputusan Arka terakhir kalinya. Kemudian ia menenangkan hatinya untuk menerima kenyataan bahwa Arka adalah bagian dari masa lalunya yang indah dan bukan bagian dari masa depannya.


Aiss bangkit, mengambil buku hariannya, dan mulai menuliskan babak baru dalam hidupnya. Babak tentang kekuatan, tentang kemandirian, dan tentang cahaya lentera yang tetap menyala di hatinya, meski di bawah rintik hujan sekalipun, bahkan setelah badai paling besar. Ia tahu, jalan di depannya mungkin masih panjang dan penuh liku, tetapi ia siap menghadapinya, dengan keyakinan bahwa setiap perpisahan adalah bagian dari perjalanan, dan setiap luka adalah pintu menuju kekuatan yang lebih besar. Cahaya lentera di hatinya, kini bersinar lebih terang dari sebelumnya, dipancarkan oleh dirinya sendiri.

~~~


Bionarasi singkat

Aiss adalah seorang gadis penuh semangat yang tumbuh di sebuah desa kecil. Meski menghadapi banyak tantangan dari lingkungan dan keluarganya, ia selalu berusaha menemukan kebebasan dan jati diri lewat kata-kata dan seni. Dalam perjalanannya, Aiss belajar bahwa cinta dan perpisahan adalah bagian dari hidup yang mengajarkan kekuatan dan keberanian. Kini, ia terus menulis dan berkarya, membagikan kisahnya agar bisa menginspirasi orang lain untuk tidak menyerah pada keadaan.


_____________________________________________________________________________


“terima kasih!”💕💕

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ZERO TOLERANCE TERHADAP BULLYING: TANGGUNG JAWAB MORAL DAN STRUKTURAL LEMBAGA PENDIDIKAN

Biografi Nais Nourma Nastiti

Persamaan dan Perbedaan antara Ilmu Kalam, Tasawuf, dan Filsafat