Ruang Kita: Dariku Tiga Tahun Lalu
Di dalam lubuk hatiku,
tersembunyi sebuah ruang,
yang pernah kau huni dengan tenang,
bukan dengan janji yang terucap,
bukan dengan harapan yang melambung,
melainkan dengan tatap dan diam,
yang tak pernah saling menghakimi.
Kala itu aku datang padamu,
bukan sebagai sosok yang sempurna,
hanya sebagai luka yang merindu pangkuan,
dan kau… adalah jeda,
di tengah kerasnya hidup yang menuntutku untuk kuat.
Kita hanya dua orang asing,,
namun dunia tiba-tiba terasa utuh dan damai,
ketika aku duduk di sampingmu,
menyebut namamu,
dan percaya bahwa mungkin…
aku layak untuk dicintai dan menemani.
Namun waktu selalu berputar,
ia tak selalu berpihak,
dunia ini juga punya aturan,
meski tak sejalan dan menyakitkan.
Kau pergi dari duniaku,
dengan suara-suara yang tak aku inginkan,
ku ingat jelas hangatnya tanganmu waktu itu,
yang menyeka air mataku dengan lembut.
Namun perpisahan tetaplah perpisahan
ia seperti hujan yang datang perlahan,
membasahi dan menghapus semua jejak buminya,
dan meninggalkan kenangan-kenangan sebelumnya.
Dalam sepi, aku bertanya pada bulan,
apakah kau juga merasakan hal yang sama?
Atau hanya aku yang terkurung dalam rasa,
mengikat rindu dalam kehampaan.
Tapi aku percaya,
ada cahaya di balik gelap yang panjang,
ada pelangi setelah hujan,
dan ada kebahagiaan yang tumbuh dari perpisahan.
Kini aku tahu, pertemuan bukan hanya tentang kebahagiaan,
dan perpisahan bukanlah akhir dari segalanya.
Mereka adalah guru yang mengajarkan kita,
bahwa cinta itu tumbuh dalam keberanian,
untuk melepas dan merelakan.
Biarlah jarak memisahkan tubuh kita,
tapi jangan sampai hati kita terlupa,
bahwa pernah ada waktu,
di mana kita menjadi satu,
Di ruang yang pernah jadi kita,
aku simpan seuntai doa,
agar suatu hari nanti,
pertemuan kembali menjadi nyata,
dan luka menjadi pelajaran,
untuk saling menguatkan, bukan menghancurkan.
Salam bahagia untukmu. Dariku, tiga tahun lalu ♡.
Komentar
Posting Komentar